Idol

Gak Butuh Nama Besar! Rahasia iKON Tetap Eksis & Bawa Nama Grup Keluar dari YG Entertainment, Kok Bisa?

Kalau kita bicara soal arti kata “Survival” di industri K-Pop, iKON adalah simbol paling nyatanya. Mereka bukan sekadar grup yang jago nyanyi dan ngerap; mereka adalah sekumpulan orang yang berkali-kali “dihajar” keadaan, dijatuhkan ekspektasi, tapi selalu punya cara buat nemuin jalan pulang ke pelukan iKONIC (penggemar mereka).

Perjalanan iKON itu kayak roller coaster yang ekstrem—mulai dari dibentuk lewat darah dan air mata, sampai akhirnya memilih jalan “merdeka” yang bikin satu industri melongo.

Yuk, kita bedah gimana iKON bertransformasi dari sekadar “anak asuh” raksasa industri sampai jadi bos atas nasib mereka sendiri di agensi baru!

Era Survival

Jauh sebelum debut resmi, iKON sudah ngerasain pahitnya kompetisi lewat dua acara survival yang bener-bener menguras mental: WIN: Who Is Next dan Mix & Match. Bayangin saja, mereka dulu adalah “Team B” yang kalah di acara pertama dan sempat nggak punya kepastian masa depan sama sekali.

Tapi di sinilah mentalitas baja mereka terbentuk. iKON bukan grup yang “dikasih” tiket debut cuma-cuma lewat jalur orang dalam.

Mereka adalah grup yang bener-bener “merebut” debut mereka sendiri dengan pembuktian kualitas. Sejak awal, mereka sudah belajar kalau di industri ini, nggak ada yang bakal bantuin kamu kalau kamu nggak berjuang sekuat tenaga.

Puncak Kejayaan dan Fenomena “Love Scenario”

Begitu debut di tahun 2015 bareng YG Entertainment, mereka langsung dapet gelar Monster Rookie. Tapi, ledakan yang bener-bener ngerubah peta musik Korea itu terjadi di tahun 2018 lewat lagu “Love Scenario”.

Lagu ini bukan cuma sekadar hits, tapi jadi fenomena nasional! Anak TK sampai orang dewasa di Korea Selatan nyanyiin lagu ini sampai dapet julukan “lagu kebangsaan”.

Di bawah naungan YG, iKON dikenal punya warna hip-hop yang sangat kuat dan produksi musik yang mandiri. Mereka membuktikan kalau idola itu nggak cuma bisa nari, tapi juga bisa jadi otak di balik lagu-lagu jenius yang mereka bawakan.

Titik Terendah yang Menguji Loyalitas

Tahun 2019 jadi tahun yang paling pengen dilupakan sekaligus paling berkesan buat iKON. Keluarnya sang leader, B.I, bikin banyak orang memprediksi kalau iKON bakal bubar dalam hitungan bulan. Tapi, keenam member lainnya—Jay, Song, Bobby, DK, Ju-ne, dan Chan—memilih buat tetap bertahan dan saling pegangan tangan.

Mereka nggak menyerah. Lewat album i DECIDE dan FLASHBACK, mereka ngebuktiin kalau api kreativitas mereka belum padam. Bahkan di acara Kingdom: Legendary War, mereka menunjukkan kalau iKON tetaplah iKON yang punya panggung luar biasa meski format grupnya sudah berubah.

Keluar Massal dan Membawa Nama “iKON”

Desember 2022 jadi momen yang nggak bakal dilupain sejarah K-Pop. Seluruh member iKON kompak memutuskan buat nggak memperpanjang kontrak sama YG Entertainment. Biasanya, grup yang keluar dari agensi “Big 3” itu opsinya cuma dua: bubar atau ganti nama karena hak paten nama grup dipegang agensi lama.

Tapi iKON bikin keajaiban! Mereka berhasil membawa nama “iKON” bersama mereka ke agensi baru, 143 Entertainment. Ini jarang banget terjadi, beb! Ini jadi bukti kalau mereka punya posisi tawar yang kuat dan hubungan yang (mungkin) tetap terjaga baik meski harus memilih jalan yang berbeda dari sebelumnya.

Babak Baru

Di agensi yang lebih kecil dan fleksibel ini, iKON bener-bener jadi bos buat diri mereka sendiri. Kalau dulu di YG mereka sering “masuk gua” alias hiatus lama banget, sekarang mereka jauh lebih aktif dan punya kontrol penuh. Mereka punya hak suara buat nentuin jadwal, produksi musik, sampai aktivitas solo tiap member.

Bobby bahkan bisa lebih bebas ngerilis album solo, dan member lain aktif banget di berbagai proyek individu. Perubahan ini ngebuktiin kalau aset terbesar sebuah bisnis itu bukan gedung kantornya yang mewah atau nama besar agensinya, tapi orang-orang di dalamnya dan loyalitas pelanggannya alias fans.

Perjalanan iKON ini sebenarnya adalah praktek nyata dari strategi bisnis yang pernah kita bahas sebelumnya. Mereka beralih dari sistem korporat besar yang kaku menuju model bisnis yang lebih mandiri, lincah, dan “manusiawi”. Mereka milih kebebasan dan kebersamaan di atas kenyamanan nama besar agensi lama.

iKON adalah bukti kalau selama kita punya kualitas dan massa yang loyal, kita nggak perlu takut buat melangkah keluar dari zona nyaman. Jadi, gimana menurut kamu? Apa langkah iKON ini bakal jadi tren baru buat grup-grup K-Pop lainnya di masa depan?

Jiselle Park

Hai, aku Jiselle, seseorang yang suka banget eksplor info seru dari dunia entertainment dan lifestyle Korea. Aku suka ngikutin comeback idol, review drama, dan tren fashion Korea yang lagi naik. Di hippysociety.com, aku bakal nulis berbagai cerita dan update Korea yang mudah kamu ikutin, jadi kamu ga ketinggalan hal-hal hits yang lagi ramai dibahas banyak orang.