Idol

Sejarah ATEEZ: Dari Trainee Pertama Hongjoong hingga Janji Setia Wooyoung & Yeosang

Kalau kita flashback ke tahun 2018, nggak ada yang nyangka kalau grup dari agensi kayak KQ Entertainment bakal bisa mengguncang panggung Coachella atau punya basis fans yang militan di seluruh dunia. ATEEZ itu ibarat bukti nyata kalau takdir seringkali bekerja lewat cara yang nggak terduga.

Kamu harus tahu fakta unik ini: KQ Entertainment sebenarnya nggak pernah punya rencana matang buat mendebutkan sebuah boy group sejak awal. Mereka itu agensi manajemen yang fokusnya lebih ke arah artis yang sudah “jadi” seperti Block B. Jadi, lahirnya ATEEZ itu bukan hasil dari pabrik idol yang sistematis, melainkan buah dari sebuah kenekatan.

Di mukai dari Hongjoong

Semua kegilaan ini dimulai dari Kim Hongjoong. Bayangkan, ada seorang remaja yang mengirimkan demo lagunya ke sebuah agensi yang bahkan nggak lagi buka audisi. Hongjoong nggak nunggu pintu terbuka; dia yang gedor pintunya duluan. Akhirnya, dia diterima sebagai trainee pertama dan satu-satunya di KQ Entertainment.

Kondisinya saat itu bener-bener jauh dari kata ideal. Hongjoong latihan sendirian di gedung yang belum punya kurikulum pelatihan idol yang jelas. Dia itu ibarat kapten tanpa kapal. Selama setahun penuh, dia mengasah skill produksinya sendirian sambil berharap suatu saat bakal ada teman yang menemani perjuangannya.

Tanpa kegigihan Hongjoong yang mau jadi “kelinci percobaan” di KQ, ATEEZ nggak akan pernah ada di peta musik dunia. Dia adalah alasan kenapa KQ akhirnya berani mengubah haluan menjadi agensi pencetak grup idol.

Perjalanan Panjang Menemukan Potongan-Potongan Tim

Setelah Hongjoong, barulah satu per satu member lain datang. Pertama ada Yunho, si penari jenius yang energinya nggak habis-habisan. Tapi jangan pikir tim ini langsung jadi dalam sebulan. Prosesnya lambat banget, sampai-sampai butuh waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya Mingi muncul dan bergabung.

Menariknya, Yunho dan Mingi ini sebenarnya sudah punya sejarah persahabatan panjang karena mereka belajar di sekolah tari yang sama. Jadi, chemistry mereka itu asli, bukan bentukan agensi demi konten semata.

Barulah kemudian sosok San, Seonghwa, Yeosang, dan Jongho masuk melengkapi formasi. Tiap member bawa karakter yang kontras banget, dari San yang punya aura “setan panggung”, Seonghwa yang jadi sosok kakak pelindung, Yeosang yang visualnya luar biasa tapi super rajin, sampai Jongho yang teknik vokalnya bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Tapi, meskipun sudah ada tujuh orang, kepingan puzzle-nya masih kurang satu. Dan di sinilah cerita paling legendaris dalam sejarah ATEEZ dimulai.

Pengorbanan Wooyoung pada Yeosang

Kita harus bahas soal Wooyoung karena ini adalah plot twist yang bener-bener bikin baper kalau diingat lagi. Sebelum di KQ, Wooyoung dan Yeosang itu trainee di agensi raksasa, BigHit Entertainment. Mereka sudah berlatih bertahun-tahun bareng member TXT dan punya peluang debut yang sangat besar di sana.

Tapi, karena alasan pribadi, Yeosang akhirnya memutuskan pindah ke KQ Entertainment yang saat itu masih kecil dan nggak punya kepastian masa depan. Di sinilah loyalitas Wooyoung diuji secara ekstrem. Dia punya prinsip hidup yang sederhana tapi dalem banget: dia mau debut bareng Yeosang. Titik.

Demi janji itu, Wooyoung rela ninggalin kenyamanan di BigHit yang notabene agensi besar, cuma buat nyusulin Yeosang ke KQ. Dia memilih buat berjuang dari nol lagi di tempat yang belum tentu sukses demi seorang sahabat.

Tanpa loyalitas “gila” dari Wooyoung ini, formasi delapan orang ATEEZ nggak akan pernah lengkap. Mereka berdua membuktikan kalau persahabatan itu levelnya di atas urusan nama besar agensi.

Dari KQ Fellaz Menuju Panggung Dunia yang Megah

Begitu formasi delapan orang ini lengkap, KQ mulai bergerak nekat dengan mengirim mereka ke Amerika Serikat sebagai “KQ Fellaz”. Di sana mereka nggak cuma belajar tari, tapi digembleng habis-habisan soal mental panggung. Begitu mereka debut di tahun 2018 dengan konsep bajak laut yang teatrikal, dunia langsung sadar kalau grup ini punya “taring”. Mereka nggak cuma jualan tampang, tapi jualan performa yang emang sekuat itu intensitasnya.

Keberhasilan ATEEZ itu adalah tamparan buat stigma kalau agensi kecil nggak bisa bersaing global. Mereka membuktikan kalau visi yang jelas dan ikatan emosional antar member jauh lebih kuat dari modal uang yang besar. Slogan “8 makes 1 team” itu bukan sekadar bumbu marketing, tapi adalah rangkuman dari semua tetes keringat dan janji setia yang mereka bangun sejak zaman Hongjoong sendirian di ruang latihan.

Kisah ATEEZ mengajarkan kita kalau terkadang hal-hal terbaik dalam hidup justru datang dari keputusan yang nggak direncanakan. Dari Hongjoong yang nekat ngirim demo, sampai Wooyoung yang setia kawan meninggalkan zona nyamannya. Mereka bukan cuma grup idol, mereka adalah sebuah keluarga yang dipertemukan oleh takdir yang unik.

Jiselle Park

Hai, aku Jiselle, seseorang yang suka banget eksplor info seru dari dunia entertainment dan lifestyle Korea. Aku suka ngikutin comeback idol, review drama, dan tren fashion Korea yang lagi naik. Di hippysociety.com, aku bakal nulis berbagai cerita dan update Korea yang mudah kamu ikutin, jadi kamu ga ketinggalan hal-hal hits yang lagi ramai dibahas banyak orang.