Jujur saja, kalau kita bicara soal makanan Korea, yang terlintas di pikiran biasanya adalah semangkuk Ramyeon panas yang estetik, Tteokbokki yang merah membara, atau daging panggang (K-BBQ) yang bikin air liur menetes. Tapi, kalau kamu mengaku sebagai K-Food enthusiast, petualangan lidahmu belum sah kalau belum kenal sama sisi “gelap” alias kuliner unik mereka.
Korea Selatan punya sederet makanan yang mungkin kalau dilihat sekilas bakal bikin orang Indonesia bilang, “Hah, serius ini dimakan?” Uniknya, makanan-makanan ini bukan sekadar buat aksi tantangan atau challenge media sosial, tapi memang bagian dari sejarah dan selera lokal yang sudah mendarah daging.
1. Beondegi
Bayangkan kamu lagi jalan-jalan santai di taman kota Seoul, lalu mencium aroma tanah yang sangat kuat dan khas. Kemungkinan besar kamu sedang berada di dekat penjual Beondegi. Ini adalah larva ulat sutra yang direbus atau dikukus dengan bumbu minimalis.
Bagi turis, melihat tumpukan ulat kecil di dalam panci mungkin bikin merinding. Tapi bagi orang Korea, ini adalah makanan nostalgia. Dulu, pasca-perang, protein adalah barang mewah. Beondegi hadir sebagai solusi protein murah meriah yang akhirnya jadi camilan favorit saat nonton bola atau sekadar nongkrong. Rasanya? Gurih, sedikit pahit, dan punya sensasi “meledak” yang unik saat digigit.
2. Sannakji
Pernah nggak kamu makan, tapi makananmu mencoba kabur dari piring? Itulah Sannakji. Ini bukan gurita hidup utuh yang ditelan bulat-bulat seperti di film laga, melainkan gurita kecil yang dipotong-potong lalu disiram minyak wijen dan taburan biji wijen.
Meski sudah dipotong, saraf tentakelnya masih sangat aktif, membuatnya terus menggeliat di piring. Di sinilah letak seninya. Kamu harus mengunyahnya dengan sangat mantap dan cepat. Kalau tidak, alat pengisap di tentakelnya bisa menempel di langit-langit mulut atau kerongkongan. Bagi warga lokal, ini adalah simbol kesegaran seafood yang maksimal. Rasanya sebenarnya sangat clean dan kenyal, tapi sensasi gerakannya itu yang butuh keberanian ekstra.
3. Hongeo
Kalau Indonesia punya terasi atau petai yang aromanya tajam, Korea punya Hongeo (ikan pari fermentasi). Bedanya, bau Hongeo ini seringkali dideskripsikan seperti bau toilet yang belum dibersihkan berhari-hari. Kenapa? Karena ikan pari mengeluarkan urine melalui kulitnya, dan proses fermentasi selama berbulan-bulan mengubahnya menjadi amonia murni.
Kenapa masih ada yang mau makan? Ternyata, setelah melewati “benteng” aromanya yang menyengat, daging Hongeo punya tekstur tulang muda yang renyah dan rasa yang sangat khas. Biasanya disajikan dalam bentuk Samhap—kombinasi antara Hongeo, daging babi rebus (bossam), dan kimchi tua. Perpaduan tiga rasa ini dianggap sebagai puncak kenikmatan kuliner tradisional Korea.
4. Gopchang
Kalau yang satu ini, lidah orang Indonesia pasti lebih gampang berteman. Gopchang adalah usus sapi atau babi yang dipanggang sampai garing di luar tapi tetap juicy di dalam. Di Korea, makan gopchang itu sudah seperti ritual wajib saat malam hari, ditemani botol hijau (soju) dan obrolan berat soal kerjaan.
Meski bagi sebagian orang Barat jeroan itu aneh, di Korea gopchang adalah primadona. Lemaknya yang lumer saat dipanggang memberikan rasa gurih yang nggak ada tandingannya. Ini adalah jenis makanan yang bikin kamu lupa diet dalam sekejap.
5. Tteok
Kita tahu Tteokbokki itu enak, tapi varian Tteok (kue beras) di Korea itu luas sekali. Ada yang teksturnya sangat lengket sampai susah ditelan kalau nggak hati-hati. Ada juga yang warnanya hijau pekat karena campuran tanaman liar. Bagi orang asing, tekstur yang terlalu “mochi tapi padat” ini kadang terasa aneh di mulut. Namun, bagi masyarakat setempat, Tteok adalah simbol doa dan keberuntungan yang wajib ada di setiap perayaan besar.
6. Mayak Gimbap
Jangan lapor polisi dulu mendengar namanya. Mayak Gimbap secara harfiah berarti “Gimbap Narkoba.” Tentu saja nggak ada kandungan ilegal di dalamnya. Nama ini diberikan karena saking enaknya, orang nggak bisa berhenti makan—mirip kayak kecanduan.
Bentuknya lebih mungil dari gimbap biasa, isinya pun simpel cuma wortel dan acar lobak kuning. Tapi rahasianya ada di saus celup mustard yang pedas-asam-manis. Ini membuktikan kalau orang Korea suka pakai istilah hiperbola untuk menunjukkan rasa cinta mereka pada makanan enak.
Kenapa Mereka Suka Makanan “Aneh”?
Kalau kita kulik lebih dalam, keunikan kuliner Korea ini lahir dari sejarah yang panjang. Teknik fermentasi muncul karena mereka harus bertahan hidup melewati musim dingin yang ekstrem tanpa kulkas. Kebiasaan makan jeroan atau ulat muncul dari kreativitas di masa sulit agar tidak ada bahan makanan yang terbuang sia-sia.


